Time is Money

by : Aldrino

Waktu adalah uang, walaupun istilah ini terdengar sangat dekat dengan kaum kapitalis, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa waktu sangat erat kaitannya dengan “uang” atau bisa kita katakan juga dengan produktivitas, semakin banyak waktu yang bisa kita gunakan dengan efektif, semakin besar produktivitas kita, dan dalam bahasanya kaum kapitalis semakin besar pula uang yang bisa kita dapatkan.

Bicara waktu juga erat hubungannya dengan profesionalisme, atau bahasa mudahnya bekerja untuk mendapatkan hasil maksimal. Orang yang professional memiliki orientasi kerja pada hasil dan kepuasan klien, sehingga dengan pedoman tersebut, segala macam sumber daya akan dimanfaatkan dengan optimal, salah satunya sumber daya waktu yang dimiliki, maka tidak ada istilah membuang-buang waktu atau waktu yang tidak dimanfaatkan dengan baik dalam kamus seorang professional.

Dan dalam bekerja, kita semua dituntut untuk selalu bisa bekerja dengan professional, telah banyak bukti-bukti nyata yang menunjukkan keunggulan kerja-kerja professional ini. Singapore, sebuah negara kecil dengan sumber daya minim, hanya bermodalkan professionalitas warganya, bisa menjadi sebuah negara sukses yang cukup disegani di Asia Tenggara, coba dibandingkan dengan negara besar tetangganya??. Mereka berupaya agar seluruh komponen masyarakat bisa tertib, tertib waktu, dan khususnya dalam hal kebersihan. Tentunya tidak sulit, karena negara sekecil itu saja bisa, mereka yang bermodalkan menjaga kebersihan saja bisa menjadi negara yang sukses.

Produktivitas yang tinggi bisa dicapai dengan pemanfaatan sumber daya yang baik, terutama waktu. Bukan sekedar meningkatkan kuantitas produktivitas, karena semua orang diberi jatah sumber daya waktu yang sama, maka jumlah produktivitas per satuan waktu ini yang justru harus ditingkatkan, dalam jangka waktu yang sama, sebanyak apa kita bisa menghasilkan lebih dibandingkan orang lain, ini makna sesungguhnya dari peningkatan produktivitas itu.

Sekali lagi, time is money, sebagai salah satu makhluk hidup yang masih hidup diduna, maka berbagai sunnatullah yang merupakan konsekuensi hukum-hukum alam yang berlaku didunia menuntut kita untuk turut berproses sesuai hukum-hukum yang ada didunia, kalau ingin makan kita butuh uang, dan konsekuensi kemiskinan itu tidak bisa kita protes hanya karena misalkan kita seorang yang rajin beribadah namun disatu sisi tidak berusaha mencukupi kebutuhan dunia kita. Intinya, kita masih harus mengikuti berbagai konsekuensi hukum dunia sehingga pada taraf minimal istilah-istilah yang dilontarkan kaum kapitalis ada baiknya turut menjadi perhatian kita.

Berbagai macam cara telah dikembangkan untuk meningkatkan pemanfaatan waktu, lahir sudah berbagai teori manajemen waktu, ada banyak tersedia, kita tinggal membacanya dan mencobanya sendiri. Saatnya menjadi lebih produktif, apalagi kalau kita mengaku seorang muslim, yang secara alamiah telah diajarkan manajemen waktu lewat ibadah rutinnya, kalau makna waktu hanya sekedar uang dalam perhatian kaum kapitalis, maka kita jauh lebih banyak daripada itu. Waktu berarti….. segalanya.