The Real Zuhud

by : Dinar Ashina

Cerita tentang sahabat tidak akan pernah habis meyisakan decak kagum, orang-orang pilihan dengan pengorbanan yang tidak akan pernah bisa kita capai, perjuangan mereka, kesungguhan mereka membela sang kekasih dan Agama keenaran ini.

Terlebih yang kita kenal dengan sang duta pertama Islam, pemuda brilian yang mampu menyampaikan pesan Islam denngan begitu cemerlangnya hingga bisa diterima cukup banyak masyarakat yastrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah. Dia Mushab bin Umeir, bangsawan yang bergelimangan dengan harta dan kesenangan dimasa pra Islamnya yang kemudian berubah 180 derajat mejadi kebalikannya setelah beliau menyatakan diri menjadi Muslim.

Bukan terpaksa, tidak ada yang kekuatan yang bisa memaksa untuk memilih pilihan yang sangat tidak mengenakan tersebut kecuali cahaya iman yang terang benderang, hidayah yang membuka pintu-pintu kenikmatan yang jauh belum bisa terbayangkan manusia keindahannya, surga yang dijanjikan.

Iapun memilih dengan sepenuh hati, meninggalkan jauh semua harta kemewahana serta kenikmatan dunia yang sebelumnya dimilikinya, ia bisa kapan saja memutuskan untuk kembali, tapi ia tetap teguh memegang keyakinannya.

Zuhud, menjauhi dunia, sebuah paradigma menganggap jelek segala hal yang berbau dunia, selain bisa melenakan, dunia itu hanya sebentar sekali dan hanya membuat kita semakin lemah saja, kalau orang biasa mengejar dunia maka orang zuhud justru dunia yang mengejarkan.

Ketika kenyataan untuk tidak bisa mendapatkan dunia harus dihadapi, orang-orang akan semakin mudah untuk melakukan zuhud, ketika sedari awal sama sekali menolak dunia maka zuhud bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Namun zuhud yang sejati justru adalah ketika kita bisa memiliki kesempatan menikmati dunia tapi kita justru menolaknya, disana nilai zuhud itu justru sejatinya bisa terukur. Orang-orang yang mendapat dunia dan besar sekali peluang baginya untuk tenggelam didalamnya, namun dengan penuh kesadaran justru ditolaknya semua itu.

Para sahabat memberi banyak contoh nyata zuhud, mereka orang-orang yang diberi kunci-kunci pembendaharaan dunia, namun dengan kesungguhannya mereka menolak untuk tenggelam didalamnya. Dan tentunya bukan sekedar gaya-gayaan menolak dunia tanpa alasan tertentu, atau bahkan berlaku berlebih-lebihan hingga penampilannya pun terlihat begitu memprihatinkan, kusut, pakaian bolong-bolong dengan berbagai tambalannya. Tapi kezuhudan yang disebabkan karena tidak ingin menggunakan harta demi sesuatu yang tidak manfaat, hartanya benar-benar dipergunakan untuk kepentingan Islam, hingga tidak ada tersisa untuk dirinya sendiri.