Terbuka

Intinya juga adalah bagaimana kita bisa “terbuka” (bukan moderat apalagi libaral loh) kita terbuka tapi dalam naungan Al-Qur’an dan Sunah

Ilmu kita sedikit, dan akan semakin bertambah seiring waktu (disaat itu kita akan mulai menemukan sesuatu yang luar biasa, bisa saja kita menemukan sesuatu yang beda dari yang kita yakini sekarang)
Ini klo kita mau terbuka dan tidak berlebih2an terhadap sesuatu yang kita yakini sekarang
(percaya gak, bahwa paradigma kita sekarang lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan)

dan ilmu lah yang akan membebaskan kita dari pengaruh lingkungan itu (ketika kita dilingkungan hedonis maka kita akan hedonis, lingkungan JT misalnya kita akan jadi seperti itu, bahkan (afwan) saya juga meyakini kebanyakn kita menjadi ikwah (ato sebutannya tarbiyah ato IM dan seperti itulah) juga akibat dari lingkungan)

Jadi intinya gak semua yang lo yakini itu 100% benar (bukan berarti salah loh)
Terbukalah, dan banyak2 menyerap “ilmu” (bukan keyakinan n pemahaman) bahkan kesemua golongan (manhaj), tdk masalah kita berteman dan belajar dari orang2 liberal, HT, JT, salafy bahkan orang2 “kiri” (ane punya temen kiri prilakunya nyentrik banget, kerjaannya peace! Subcomandante Marcos, che dll mulu, tapi bener loh orang kiri itu keren2) ato ane jg punya tmn JT yg klo ketemu orang pasti ditegur (ada 100 orang lebih di mesjid kampus disalaminya semua) ato seperti dengar ceramah2 salafy, Tapi ane juga bergabung dengan temen ikhwah (yang mayoritas di JS)

lalu gmana dong? apa kita gak boleh bergabung dengan salah satunya silahkan pikirkan sendiri, ambil jalan temen2 sendiri,
tapi klo ane pribadi tetep ingin jadi orang merdeka (bebas dari golongan manapun) jangan sampai mengkerdilkan diri dengan ikatan yang gak seharusnya mengikat kita.
(tapi kan harus jama’ah? mangnya pengertian jama’ah tuh seperti apa, klo menurut ane sendiri tetap menjalin hubungan dengan teman2 seperti di milis ini berarti kita sudah berjama’ah tidak sendirian)

Tapi emang katanya dakwah klo mau sukses juga harus terstruktur (dgn organisasi yang resmi dan tersusun rapi), ya ada benarnya juga (tapi ini juga ada kelemahannya, ketika dakwah dianggap seperti “mlm”, 1 berbuah menjadi 2, dengan orientasi keduniaan ( cth: semakin banyak yang ikut pengajian, semakin besar kekuasaan, dll dianggap sebagai dakwah yang sukses) ane kira ini juga gak benar,

Afwan jgn sampai dakwah ini (yang murni mengharapkan hidayah darinya) sampai ternoda dengan orientasi keduniaan. pa lagi ingat setan paling mudah memasukkan “alasan2” dalam pikiran kita untuk menyesatkan.

Jadi intinya terbukalah, dan jangan berlebih2an (ini penyebab utama kehancuran umat2 terdahulu) bahkan juga klo berlebih2an di dalam pemahaman kita pada manhaj dakwah tertentu, hingga sampai menganggap yg lain gak benar (cth: salafy yg mengharamkan cukur jenggot, isbal dan musik. kita tidk boleh langsung menghakimi gak benar dan mencela, ane juga masih
sering isbal tapi gak mencela orang yg tdk isbal (ngelipat celana tinggi2) klo kita gak bisa ngelakukannya ya udah gak papa, tapi jgn mencela ato sampai menganggap buruk, gak punya ilmu dsb pada orang tersebut)

Jadi misalnya kita mengikuti manhaj tarbiyah belum tentu ini paling benar dan paling sempurna. jgn berlebih2an tapi “ingat” persiapkan bekal antum dengan pemahaman akidah yg murni sesuai Al-qur’an dan sunah (byk yang benar2 sesat tapi memakai topeng islam, hati2 lah) sekali lagi terbuka dan coba jgn terlalu fanatik

7 Des 2005
Wallahu’alam, berusaha mengeluarkan teman yang hampir tenggelam dalam hizbiyahnya