Siwak…

Sunahnya sangat banyak dan beragam… apapun itu agama ini mengajarkan kita untuk selalu percaya, meyakini dan mengikuti sepenuhnya apapun yang berasal dari Rasulullah Muhammad saw, bahkan untuk hal-hal yang kadang di luar logika, so kita aja percaya bahwa kadang cinta gak ada logika, masa’ untuk hal yang jauh lebih mulia daripada cinta (notabenenya cinta syahwat). Logika harus mengalah jika dihadapkan dengan dalil, itu kunci utama, dan tentunya pemahaman dalil mesti sesuai dengan pemahaman Rasulullah dan generasi-generasi yang dijaminnya sebagai generasi terbaik.

Yang lain, biografi tokoh-tokoh terbesar didunia, cerita tentang orang-orang langka yang memiliki kemampuan luarbiasa (biografi ini bisa dibaca dibanyak buku-buku yang membahas orang-orang terhebat sepanjang sejarah, salah satunya Al Bidayah Wa Nihayah karya Ibn katsir, juga biografi para sahabat dan ulama salaf lainnya). Itulah tokoh-tokoh yang tak tertandingi kehebatannya, baik kapasitas yang diukur secara akhirati maupun secara duniawi, siapa yang bisa menandingi kekayaan Abdurrahman bin auf, jika dihitung semua harta yang dimilikinya plus semua yang pernah diinfaqkannya.

Siapa yang bisa menandingi kekuatan hapalan Imam Bukhori atau siapa yang bisa menandingi kemampuan berbahasa zaid bin tsabit, yang bisa menguasai beragam bahasa dalam waktu yang singkat. Itu baru sebagian saja cerita tentang orang-orang besar itu. Dan mereka bisa menjadi besar salah satunya karena kesungguhan mereka mengikuti sunah nabinya, kalau kita buka kembali kisah-kisah mereka, maka akan terlihat cerita menarik tentang orang-orang yang begitu mengidolakan seorang idola mereka, yang bisa mempengaruhi lahir batin mereka, tidaklah setiap aktivitas mereka lakukan kecuali sang idola pernah melakukannya, bahkan sebuah cerita menarik tentang Ibnu Umar, (orang besar anak orang yang tak kalah besar pula), yang terkenal dengan kesungguhannya meniru idolanya, hingga sampai tempat-tempat dimana unta rasulullah pernah berhenti, ia mengikuti untuk berhenti ditempat itu pula, walaupun tidak tahu gunanya untuk apa.

Luar biasa kesungguhan mereka dalam menjalankan setiap sunahnya, dan itu langsung dibalas Allah dengan berbagai kelebihan mereka, dibalas dengan kejayaan dan kemenangan-demi kemenangan yang terus mereka capai. Maka kalau kita mau beranalogi sebenarnya mudah untuk mengetahui mengapa umat Islam saat ini begitu lemah dan kekalahan-demi kekalahan terus diterima. Seberapa sunahnya yang sudah kita laksanakan, mulai dari sunah-sunah utama hingga sekedar sunah-sunah adab. Kita begitu jauh dari yang dituntunkan, maka tidak salah kalau kita harus kalah saat ini.

Sebuah kisah menarik mengenai kebulatan iman para sahabat kepada Tuhannya dan Rasulnya, dalam sebuah pertempuran sengit dengan pasukan kafir, pasukan muslim belum bisa menunjukkan tanda-tanda bagus, mereka terus terdesak mundur. Maka dalam kesulitan itu apa yang pertama kali mereka lakukan? Tidak lain adalah memeriksa kembali ada sunah-sunah apa yang terlewat belum dilakukan, akhirnya ditemukan ternyata mereka belum bersiwak, maka mereka langsung mencari apa saja yang bisa dijadikan siwak untuk menyikat giginya, ranting-ranting pohon yang ditemukan langsung diambil dipakai untuk bersiwak, menyikat gigi. Pasukan kafir yang melihat tingkah laku pasukan muslim langsung kaget dan dimasukkan rasa takut ke dalam hati-hati mereka, wah… pasukan muslim mulai menjadi semakin ganas, mereka berubah menjadi monster, mereka mulai menyikat taring-taring mereka, siap memakan kita. Rasa takut begitu merayapi mereka hingga dalam peperangan pasukan kafir sudah dipastikan kalah karena tidak akan bisa berperang dengan baik orang-orang yang takut.

Wallahu’alam bis Showab