Risalah “Aldrino kecil” dengan buku hariannya

Kalau sekedar berencana, mudah dan semua orang bisa melakukannya, aku sudah banyak melakukan planning-planning. Bahkan revisinya pun sudah tidak terhitung.

Kertas yang berlembar-lembar berisi coretan planingku hanya sebagai pemuas perasaanku ketika membacanya saja, realisasinya tidak ada, bukan tidak mencoba tapi selalu gagal dan gagal.

Dengar sahabat-sahabatku bercerita, keluhan mereka, terutama permasalahan kemalasan diri, yang mengatakan sulit mengatur waktu, terutama menentukan skala prioritas juga ada, dan berbagai problem pribadi lainnya.

Terntata tidak jauh beda dengan ku, dan akupun merasa punya banyak teman.

Ternyata hampir semua orang kenyataannya tidak bisa memanfaatkan waktunya dengan baik, kalaupun tidak diisi dengan aktivitas yang merugikan bahkan bagi dirinya sendiri, minimal banyak orang yang masih terjebak dalam kesia-siaan, sekedar melamun, meskipun dengan dalih melakukan perencanaan, sampai pada aktivitas menyenangkan seperti ng-game dan tidur.

Akupun berkesimpulan bahwa yang kualami adalah sebuah kewajaran, yang juga dialami semua orang, bukan terlalu buruk ternyata, maka tidak perlu merendahkan diriku sendiri.

Hanya orang-orang besar dan sukses saja yang melakukan pekerjaan sedikit lebih dari kewajaran, mungkin tidak banyak, sekedar memanfaatkan waktu-waktu yang dipunya saja, minimal tidak berisi kesia-siaan. Dan ternyata orang sukses itu tidak banyak, hanya segelintir orang saja, mereka yang sadar betapa mudahnya untuk menjadi sukses, mereka yang sadar betapa dekatnya sesungguhnya orang-orang biasa itu untuk menjadi sukses., dan semua orang bisa melakukannya.

Pada taraf yang minimal sekali, ketika kita bisa memastikan setiap detik waktu kita diisi dengan kemanfaatan maka, predikat orang sukses itu sudah layak untuk kita sandang, hanya itu saja.

Tanpa memikirkan apa yang harus dikerjakan, bagaimana alurnya, dan mana yang prioritas, tanpa harus memberatkan diri dengan jadwal-jadwal tertentu, dengan target tertentu. Pada tingkat minimal maka itu sudah jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Tentu itu tidak ideal, pada tingkat selanjutnya aku juga harus memilah-milah apa-apa saja yang lebih baik untuk aku kerjakan, perhitungan efektifitas dan efisiensi sumber daya, dengan berbagai planning-planning yang teralur menuju tujuan yang besar.

Tapi intinya, adalah ketika aku tidak sekedar omomg doang, tapi dengan mewujudkannya dalam kerja nyata, dengan pembahasan minimal seperti diatas, kerja-kerja tanpa perencanaan, justru jauh lebih baik ketimbang kebanyakan planning yang malah membuat ku terbuai dengan kehebatan planning ku, lalu aku hanya hidup dalam kejayaan rencana saja.

So… keep working aja deh…