Purwokerto Log

Catatan selama di purwokerto, 6-9 Februari 2014

  • Perjalanan jarak jauh pertama si agya putih. Begitu juga bagi Maryam, dan ia bisa melewati perjalanan 5 jam dengan tidur pulas serta tanpa kerewelan lainnya.
  • Sampai di purwokerto, saat Maryam bertemu banyak orang, dengan kegendutannya selalu bisa jadi pusat perhatian, siapapun yang melihat akan tersenyum dan ingin menggendongnya, Alhamdulillah jika bisa menyenangkan banyak orang yang melihatnya, asalkan gak berdampak buruk saja bagi kesehatannya, karena digendong banyak orang asing sama juga dengan bertemu banyak virus dan bakteri baru, tapi sampai sekarang Alhamdulillah, maryam masih sehat-sehat saja.
  • Akad nikah Mega, tidak dirumah maupun di mesjid, tapi harus di kantor KUA, selain harus ngantri dengan pasangan nikah lainnya, sebenarnya gak ada bedanya, toh kantor KUAnya juga lumayan bagus suasananya, adem karena di area Baturraden yang dingin. Kebijakan akad nikah di KUA ini dalam rangka mengurangi gratifikasi yang sering terjadi saat orang mau menikah, ya usaha pemberantasan korupsi harus juga didukung masyarakat walaupun harus berkorban bersusah-susah datang ke KUA dan ngantri untuk nikah.
  • Kalau kulihat petugas KUAnya cukup baik, masih muda dan memberi khutbah nikah yang bagus, memotivasi bagaimana sebenarnya arti pernikahan dalam Islam.
  • Menyaksikan momen akad nikah, membuatku kembali teringat 6 tahun yang lalu saat aku melakukan akad nikah, suasananya terasa hadir kembali, walaupun kali ini cuma sebagai penonton, proses akad nikah tetap terasa menegangkan, ini perjanjian yang berat, perjanjian seumur hidup, hingga saat para saksi mengatakan “sah”, akupun ikut merasa lega. Barakallah buat pasangann yang menikah, Mega dan Rano, semoga bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.
  • Pernikahan Mega-Rano ini, benar-benar mengingatkan kembali memoriku ke 6 tahun yang lalu, mulai dari rumah yang sama, mungkin juga tendanya juga sama, jadwal hari akad dan walimah yang sama, beberapa panitia pernikahan juga orang yang sama, lokasi gedung pernikahannya sama, mobil pengantin yang dipakai juga sama, hingga sang pengantin pria juga mungkin mengalami hal yang sama dengan yang kualami saat itu.
  • Momen pernikahan juga menjadi salah satu sarana untuk semua keluarga ngumpul, banyak keluarga yang rela datang walau dari tempat yang jauh. Aliyya dan usamah juga bisa bermain dengan sepupu mereka, amalina yang jarang sekali bertemu.
  • Tidak banyak kegiatan lain selain yang berhubungan dengan acara pernikahan, padahal sebelumnya banyak rencana yang sudah dibikin, kegiatan jalan-jalan yang terealisasi hanya ke objek wisata Baturraden, dengan aliyya dan usamah, itu juga cuma sebentar.