Perjalanan

Minggu ini kami mudik ke purwokerto, menghadiri nikahannya Mega, berangkat hari kamis pagi, perjalanan ke purwokerto, memakan waktu kurang lebih 5 jam, aku menyetir sendiri dan nonstop, sekalian mengukur seberapa ketahanan diri ini. Perjalanan walaupun melelahkan aku berusaha membuatnya nikmat, dengan berangkat sepagi mungkin, hingga merasakan nikmatnya udara pagi di perjalanan, selain itu dengan modal file-file audio kajian Islam, 5 jam jadi tidak terasa karena sambil mendengarkan ilmu juga.

Cuba Car
Cuba Car (Photo credit: @Doug88888)

Perjalanan juga jadi cermin kehidupan, beberapa hikmah kejadian dalam perjalanan ibarat kehidupan yang kita jalani. Saat harus memilih jalur, mirip dengan kehidupan yang selalu penuh dengan pilihan, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada jalur utama yang secara jarak lebih dekat, namun terkadang tidak bisa dilalui dengan cepat karena penuh dengan kendaraan lainnya, sedangkan jalur alternatif, memberi pilihan jalur yang sepi, hingga bisa melaju lebih cepat, namun secara jarak jadi lebih jauh dan kondisi jalan tidak sebaik jalur utama.

Ketika mengambil jalur alternatif lewat selatan, jalan daendels, aku menemukan jalan yang luar biasa rusaknya, lubang menganga besar dimana-man, membuat mobil cuma bisa melaju paling cepat 20 km/jam, dan kondisi rusak ini hampir disepanjang jalan yang agak panjang. Sebenarnya  tidak terkejut karena sudah dapat informasinya sebelumnya, namun tetap aku pilih karena di jalur utama pergerakan kendaraan agak lambat karena macet.

Tapi, jalan yang sangat rusak ini membuat kita belajar sabar, melaju pelan sambil senantiasa berdo’a mudah-mudahn segera mendapatkan jalan yang mulus setelah ini, dan ketika akhirnya menemukan jalan yang mulus, sangat lega sekali rasanya, seolah-olah kekesalan di jalan yang rusak sebelumnya jadi terlupakan.

Perjalanan itu ibarat kehidupan kita, hanya saja durasinya lebih singkat, tapi justru karena singkat itu kita jadi bisa mengupayakan usaha terbaik kita agar segera sampai ke tujuan dengan selamat, bukannya malah tergoda mampir kemana-mana hingga lupa tujuan kita. Semoga dalam kehidupan kita yang sebenarnya, yang tidak sesingkat perjalanan hingga kadang membuat kita terlena lupa tujuan, kita bisa senantiasa kembali ingat dengan tujuan kita, yaitu kehidupan akhirat yang kekal.