Menikah

Hari ini 4 Februari, ulang bulan pernikahanku yang ke-73, wah apa yang spesial dengan angka 73? Sebenarnya tidak ada, hanya lagi ingin bikin tulisan tentang ini, dan memang besok mau berangkat ke purwokerto, ada nikahan Mega adiknya Dei.

Tulisan ini berisi beberapa nasihat tentang pernikahan, berdasarkan pengalamanku selama ini, angka 73 bulan mungkin masih muda, tapi cukuplah untuk bisa menceritakan sedikit pengalaman.

Flower
Flower (Photo credit: @Doug88888)

 

Nikah tanpa pacaran? Bisa banget

Dalam Islam, idealnya seorang wanita menikahi seseorang pria yang dipilihkan bapaknya, karena bapak yang paling berhak sebagai wali. Tapi, kalau tidak memungkinkan bisa juga dicarikan oleh guru, ustadz, teman atau siapapun yang penting bisa mencarikan seseorang yang memiliki keIslaman yang bagus, ini faktor paling penting, setelah lolos baru dipertimbangkan faktor lainnya seperti fisiknya, keluarga maupun kemampuan finansial.

Kalau dicarikan, tidak saling kenal, berarti tidak ada cinta? Ada sebuah kalimat terkenal, “cinta pada pandangan pertama”, kok menurutku agak tidak masuk akal, yang ada mungkin nafsu kalau cuma dari pandangan pertama. Cinta itu bisa ditumbuhkan, semakin lama kita mengenal, semakin tahu lebih dalam, semakin bertambah cinta kita hari demi hari. So, Nikah tidak harus diawali dengan cinta, karena cinta bisa ditumbuhkan, bahkan bisa jadi lebih kuat karena proses tumbuhnya cinta tidak perlu melanggar syariat agama, pacaran setelah nikah lebih asik, dan tentunya lebih diridhoi serta penuh dangan keberkahan.

Coba baca artikel lawas ini “nikah tanpa nguber-nguber akhwat”, mantapkan dirimu agar siap menjemput jodoh yang mantap juga.

Bisa juga sebelum nikah sudah saling kenal, yang terpenting dalam prosesnya tidak dicampuri hal-hal melanggar syariat seperti pacaran, karena belum nemu cara pacaran yang 100% syar’i. Bisa jadi sebelumnya, hanya teman, kemudian memutuskan sama-sama sepakat untuk jadi suami-istri. Atau seorang yang jatuh cinta pada seseorang, langsung menyatakan cintanya dengan lamaran.

Aku sendiri awal prosesnya adalah minta dicarikan ustadz, karena ini cara paling mudah dan cepat menurutku untuk mendapatkan calon yang baik agamanya, baru kemudian bisa dilihat faktor lainnya. Ingat, proses pencarian ini sangat penting karena merupakan hak anak-anak kita kelak untuk mendapatkan ibu yang terbaik. Alhamdulillah hasilnya memuaskan, 6 tahun menikah makin cinta setiap hari.

Sebaik-baik wanita adalah istri yang bila kau pandang, membuat kau senang; bila kau suruh, ia patuh; dan bila kau tidak ada, ia senantiasa menjaga hartamu dan dirinya. 
(HR. Abu Dawud)

Harus kerja dulukah?

Tidak harus, tapi harus sudah punya plan yang kongkrit, masalah finansial bukan masalah remeh walaupun kita harus percaya setiap orang sudah punya rezekinya masing-masing. Tapi untuk menjemput rezeki itu juga harus memiliki rencana yang matang. Aku saat itu masih kuliah, walaupun sudah pernah bisnis kecil2an, tapi rencanaku yang paling kongkrit saat itu adalah bisnis online, ini yang paling mungkin dilakukan mahasiswa maupun pengangguran lainnya.

Bisnis online bisa dan mudah dipelajari, ini sebenarnya bisa jadi salah satu solusi penghasilan bagi anak-anak muda yang hendak menikah, bisnis online bisa dimulai kapan saja dan oleh siapa saja, tanpa butuh ijasah apapun, dan dengan modal yang tidak banyak. Kalau baca forum ads-id.com akan banyak menemukan anak-anak muda usia SMA yang sudah punya penghasilan sendiri hingga puluhan juta perbulan.

Jadi modalnya tidak perlu mampu secara real finansialnya, cukup punya rencana penghasilan yang kongkrit, salah satu pilihannya bisnis online yang dalam prakteknya Alhamdulillah cukup bisa memberi penghasilan bagiku, asalkan benar-benar di pelajari dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Modal lainnya yang gak kalah penting, kedewasaan emosional dan ilmu membina keluarga

Menikah itu bukan soal akad maupun resepsi yang hanya beberapa jam saja, Pernikahan itu adalah jangka waktu panjang 20, 30 hingga 50 tahun lebih hidup bersama seorang manusia lain, jadi salah satu modalnya adalah ilmu, baca buku-buku tentang membina keluarga, mendidik anak, psikologi suami-istri, hingga buku-buku relationship barat juga boleh dibaca untuk menambah referensi. Dulu aku sudah mulai banyak menggali ilmu tentang pernikahan sejak 2 tahun sebelum aku menikah, hingga mengikuti seminar maupun workshop persiapan pernikahan.

Salah satu ilmu terpenting adalah soal Aqidah, dengan akidah keimanan yang kokoh maka apapun yang terjadi, ujian maupun nikmat apapun yang kita dapatkan semua akan dihadapi dengan rasa cinta, takut dan harap kepada Allah, yang 100% muaranya adalah kebaikan. Keimanan yang kokoh akan melahirkan kesabaran yang kuat, yang merupakan salah satu solusi atas segala permasalahan rumah tangga..

73 bulan pernikahanku, tentu juga diwarnai pertengkaran-pertengkaran, terutama diawal-awal nikah, tp dengan ilmu yang memadai hal itu justru jadi bumbu yang membuat pernikahan semakin indah. Dan memang kuncinya sabar, menahan ego masing-masing dan terus meningkatkan keimanan, membina rumahtangga bukan cuma perkara dunia, tapi juga harus mendukung akhirat kita.

Nikah usia Muda? No Problem…

Aku dulu menikah dalam usia yang bisa dibilang muda, masih 21 tahun. Usia tidak menjadi halangan, asalkan sudah punya bekal menikah, seperti disebutkan di poin-poin diatas. Tidak perlu tunggu sampai sempurna, yang penting sudah berusaha dicukupi. Selanjutnya, modal nekat dan pasrah aja… Lanjut Terus ke pelaminan..!!

“Aku menyesal menikah!” kata si Adi. “Menyesal kenapa?” tanya si Budi. Menyesal kenapa gak dari dulu” jawab si Adi sambil tersenyum.

Wahai kawula muda, siapa pun diantara kalian yang sudah mampu menikah, hendaklah menikah. Sebab, pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. 
(HR. Muslim dari Abdullah)