Mendidik Anak sesuai Umurnya

Ada sebuah artikel yang sudah banyak dishare kemana-mana, tentang metode parenting ala sahabat nabi Ali bin Abi Thalib, entah bagaimana nilai kevalidannya karena tidak ada rujukan yang shahih, tapi isinya bagus dan masuk akal untuk diterapkan.

Inti metodenya adalah “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu”.┬áMenurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam cara memperlakukan anak:

1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.

Pada kelompok umur ini, anak harus diperlakukan sebaik mungkin untuk mendukung perkembangannya, ibarat raja kita yang jadi pelayan melayani apa saja kebutuhannya. Anak masih polos dan bersih, karenanya kita tidak boleh berlaku keras, disiplin sewajarnya saja, tanpa marah-marah, membentak apalagi hukuman fisik. Karena anak pikirannya masih dalam masa perkembangan, suka mencari tahu, mencoba hal-hal yang baru, eksplorasi, yang kadang hal ini justru disalahartikan orang tua sebagai tindakan usil dan nakal. Tapi anak belum mengetahui konsekuensi atas suatu perbuatan, karenanya tentu tidak adil kalau kita menghukum seseorang yang tidak mengetahui apa yang diperbuatnya. Jadi orangtua harus ngalah, kita yang harus bisa jaga emosi bukan mereka, karena anak-anak jelas belum bisa.

2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.

Umur yang tepat mengajarkan disiplin dan aturan-aturan adalah usia 8-14, saat mereka sudah mengerti konsekuensi atas perbuatannya, ketika berbuat yang dilarang, maka hukuman harus diterapkan, tentunya menghukumnya juga dengan hati bersih bukan emosional, dan dijelaskan kesalahan serta alasan hukumannya.

Rasulullah SAW mulai memerintahkan seoang anak untuk sholat wajib pada usia 7 tahun, dan memperbolehkan kita memukul anak tersebut ketika ia telah berusia 10 jika tetap tidak mau disuruh sholat.

Disiplin sangat diperlukan terutama sebagai filter, karena umur menjelang remaja, anak akan mulai banyak bergaul dengan lingkungan luar, akan banyak informasi baru yang diserapnya, baik yg baik maupun yang jelek. Ini saat-saat krusial menjelang mereka dewasa, saat hukum-hukum syariat mulai diberlakukan pada mereka secara penuh, maka kewajiban kita memastikan mereka mejalankan hidup sesuai syariat.

3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.

Ketika anak memasuki kelompok usia ini, mereka sudah mulai baligh, semakin dewasa dan jadi pribadi yang mandiri. Pada umur ini tidak tepat lagi kita melakukan disiplin keras, karena yang ada meraka malah bisa memberontak dan kabur. Maka, yang tepat memberlakukan mereka sebagai sahabat. Anak ingin dianggap sudah dewasa dan tidak suka dianggap  seperti anak-anak.

Sebagai sahabat pendekatan kita adalah dengan diskusi. Kita masih harus memantau dan mengarahkannya jika ia melakukan kesalahan, hanya saja dilakukan dengan diskusi yang tepat, buat mereka menyadari sendiri kesalahannya.

——-

Demikian sedikit ulasanku soal metode parenting ini, semoga gak ada yang salah, soalnya aku sendiri baru praktek hingga di fase anak yang pertama, dibawah 7 tahun, belum mengalami bagaimana menghadapi anak di fase umur berikutnya, tapi berdasarkan pengalamanku saat kecil, pembagian perlakuan berdasarkan umur ini sangat cocok untuk diterapkan.