Membela Shalahuddin

by : Dinar Ashina

kritik pada seorang teman

Salah satu konsekuensi (yang merupakan penurunan) dari cinta utama kita
yaitu cinta kepada Allah, adalah mencintai pula apa-apa yang dicintai Allah dan yang berusaha mencintai Allah

Perkara cinta untama, wajib dan hakiki gak bakal dibahas disini
intinya, sebagai muslim kita WAJIB menempatkan cinta no 1 kepada Allah SWT.
klo gak ngerasa muslim ya… terserah

Klo mau diruntut, derivasinya, ketika kita mencintai Allah maka kita juga wajib mencintai RasulNya, Muhammad saw
selanjutnya juga wajib mencintai ajarannya, yaitu Islam, yang juga mewajibkan kita untuk mencintai dakwahnya
nah konsekuensi mencintai dakwah kita juga harus mencintai wasilah-wasilah dakwah tersebut, salah satunya lembaga dakwah, hingga pada level terakhir kita juga diharuskan mencintai para da’i-da’i pejuang dakwah itu sendiri

Sehingga pada level minimal, seperti apapun lembaga itu “dalemannya” yang mungkin kita tidak tahu, selama ia mengaku sebagai lembaga dakwah kita tetap harus mencintainya, minimal menghormatinya.

Dan memeang kalau mau membuka mata, kita akan bisa melihat, betapa arogannya diri kalau kita sampai bisa-bisanya menilai sebuah lembaga yang tentunya sudah tak terhitung jasa dan yang telah dilakukannya. Minimal jika dibandingkan dengan “diri kita’

ya… sedikit mengurai fakta
terutama yang sudah terjadi di Shalahudin (ini yang ane ketahui)
(bukan mau pamer amal loh…)

berikut adalah uraian seorang pembela shalahuddin (Aldrino Abu Ihsan) kepada salah seorang pencelanya
dan dengan sedikit ekspresi kemarahan, kita harus memilah-milah hingga mendapatkan yang terbaik
semoga bisa mendapatkan inspirasi.


“Tahu dari mana shalahuddin “gak bikin apa-apa”
apa sih yang sudah antum perbuat?
sangat gak layak kalau ingin dibandingkan dengan shalahuddin yang sudah ada bahkan jauh sebelum antum lahir
antum berani mengkritik kinerja sementara antum belum punya kontribusi apa-apa
antum berkoar-koar tentang kebrobrokan sementara antum sendiri masih bergelimpangan kebrobrokan
coba deh buka mata lebar-lebar
kalau bicara Shalahuddin

Sudah berapa orang yang mendapatkan banyak manaat ilmu dari kajian-kajian yang diselenggarakan?
apalagi yang rutin, seminggu ada 5 kali, yang kalau diakumulasikan sampai sekarang sudah tak tercatat lagi di buku notulensi berbagai materinya

Sudah berapa banyak orang yang terbantu dengan seminar, talksahow, diskusi-diskusi yang sudah tidak terhitung lagi jumlah dan jenisnya.

Sudah berapa banyak masyarakat yang terbantu dengan bakti sosial yang diadakan, tiap tahun ada rutin minimal sekali dalam idulAdha, dan bakti sosial insidental ke berbagai level masyarakat yang memerlukan, mulai dari panti asuhan, rumah singgah hingga ke desa-desa yang sangat membutuhkan, bahkan ada sebuah “desa binaan” yang memang mendapatkan perhatian khusus. atau berbagai bantuan yang memang ditangani secara khusus oleh Lazis-nya Shalahuddin

Sudah berapa banyak siswa dan mahasiswa yang terbantu dengan beasiswanya Shalahuddin, mereka juga mendapatkan pendampingan dalam akademik dan keagamaannya.

Sekretariatan, kalau sering main kesana maka akan menemukan berbagai ragam unik orang yang datang dengan bermacam kebutuhan, mulai dari peminjaman alat, permohonan donor-darah, permintaan sumbangan hingga, menampung orang-orang yang tidak punya tempat menginap sementara.

Bagi mahasiswa baru, berapa banyak manfaat bantuan yang telah didapatkan, sambutan, info-info penting hingga pendampingan yang dilakukan, minimal penyediaan tempat menginap sementara ketika akan ujian atau registrasi yang memang hanya 1 hari, bukan hanya mahasiswanya, juga keluarga-keluarga yang sudah lelah mencari hotel yang selalu penuh, bisa menginap ditempat yang lumayan nyaman.

kita keluar
Sudah berapa LDK-LDK yang terbantu, di Indonesia timur, banyak kampus yang belum punya lembaga dakwah, dan shalahuddin dalam fsldkn menginspirasikan terlahirnya banyak LDK disana, bahkan Shalahuddin sendiri menjadi pendamping LDK-LDK Indonesia timur tersebut

Kita belum bicarakan manfaat yang bisa didapat oleh mahasiswa sendiri, atau juga kader shalahuddin sendiri, mulai dari ilmu, pemanduan dan opini-opini melalui media yang bertanggungjawab, sampai berbagai skill yang bisa didapat dari penyelenggaraan berbagai kegiatan.

sudah….?
sadar gak betapa jauhnya antum?
itu baru yang terjadi sekarang, belum memperhitungkan kinerja-kinerja shalahuddin dahulu yang lebih hebat lagi”.

mmm….
yak..! sekilas mang asyik ngelihat orang yang dimarah-marahi
untungnya yang dimarahi tidak membalas
klo gak bisa-bisa terjadi perdebatan emosional.

seperti pada tulisan yang lalu, coba untuk “open”
jangan terlalu picik menilai sesuatu
terlebih lagi ketika kita belum punya apa-apa
hanya omong doang tanpa kinerja nyata