Mangnya kita siapa?

sering, kita menilai sesuatu dari sudut pandang yang bisa kita lihat saja
semuanya selalu tentang “kita”
seolah-olah segalanya berpusat pada kita semua

sebagai poros…?
yang benar saja, emangnya kita siapa?

kita sebagai mahasiswa, sering protes kalau diberi tugas yang banyak, kita tidak tahu bahwa sang dosen sudah berfikir keras menyusun sebuah konsep terbaik untuk meningkatkan kemampuan mahasiswanya

kita sebagai seorang anak, sering kita protes jika tidak diperbolehkan melakukan sesuatu, kita tidak tahu bahwa orang tua kita memiliki kekhawatiran yang luar biasa terhadap hal yang akn kita lakukan dengan bekal pengalamannya ia tahu konsekuensi buruk yang mungkin bisa terjadi

kita sebagai warga negara, sering kita protes kalau pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan yang merugikan, kita tidak tahu bagaimana pemerintah berfikir keras mengeluarkan kebijakan itu, bersama orang-orang terbaik negeri ini, harus mengambil sebuah konsekuensi merugikan satu pihak, karena apapun yang diambil pasti akan ada yang dirugikan

kita sebagai seorang hamba, sering kita protes ketika mendapat kesulitan bahwa Allah tidak adil, kita tidak tahu betapa adilnya Allah menerapkan mekanisme hikmah bagi hambanya. Allah sudah sangat adil sekali bahkan kalau Allah ingin lebih adil lagi justru kita yang akan menolak, kalau Allah adil memberikan karunia sesuai dengan apa yang telah kita berikan, maka kita akan sangat menderita, pasti kita tidak akan mendapatkan apa-apa, karena memang kita selama ini sudah sangat jauh tenggelam dalam ketidak adilan pada Allah. Maka pastaskah bila kita menuntut keadilan?