Kebutuhan Mencintai

by : Dinar Ashina

Seorang anak dengan kesalnya mengusir ibunya untuk pindah dari rumahnya, bukan secara langsung tentunya, ia tidak akan berani melakukan itu, tetapi dengan berbagai sindiran yang membuat panas telinga sang ibu, Akhirnya diputuskan untuk segera pindah kerumah anaknya yang lain saja. Bukan tanpa alasan, kekesalan demi kekesalan telah memuncak dikepala sang anak, mulai dari ibu yang cerewet, banyak mengatur, bahkan sampai mengkritik segala aktivitasnya yang menurutnya sudah tidak pantas lagi dikontrol oleh seorang ibu, “aku sudah besar dan bisa hidup mandiri, sudah saatnya aku menikmati kebebasanku”, begitu omelnya dalam kemarahannya.

Waktu sudah malam dan sang ibu dengan kemarahannya juga sudah tidak sabar untuk pergi meninggalkan rumah anaknya itu, iapun sudah mengemas semua barangnya dalam koper, siap didepan pintu, dan menikmati tidur malamnya diruang tamu, ia tidak mau menikmati bahkan semalam lagipun di atas kasur dalam kamarnya di rumah anaknya itu.

Sang anak tidak bisa tidur sepanjang malam, berbagai keraguan mulai dirasakannya, entah benar atau tidak keputusannya mengusir ibunya itu, ini demi kebaikan ibu, itu dalihnya menguatkan keputusanya.

Berkali-kali ia keluar melewati ruang tamu, tempat ibunya tidur terduduk dengan memprihatinkan, dan rasa iba pun merasuki hatinya namun sesaat kemudian berbagai kekesalan yang dialaminya beberapa hari ini kembali menguasai pikirannya, ia pun masuk kembali kekamarnya dengan tidak peduli.

Beberapa kali, dan beberapa kali pula ia mulai meneteskan air mata, ketika melihat ibunya, entah mengapa berbagai kenangan indah masa lalunya seketika hadir, berbagai jasa ibunya yang belum sempat terbalas dan itu membuatnya menangis, tapi sekedar tangis, ia segera menghapusnya dan tetap pada keputusannya kemudian.

Malam segera berlalu, ia pun semakin gelisah, karena jika sudah sampai saat pagi, saat itu pula ia harus melihat ibunya pergi, antara kesenangan dan kesedihan yang dirasakannya. Dini hari itu ia berdiri didepan tubuh tua yang sedang lelap tertidur itu, tidak berbaring namun duduk sambil tertidur, Beberapa saat fikirannya kacau, perang antara keputusannya untuk membiarkan ibunya pergi atau tidak. Sakit sekali terasa kepalanya, berbagai kenangan indah itu muncul, berbarengan dengan kenangan pahit yang semakin menyulitkannya menentukan pilihan. Ia memegang kepalanya,

Sesaat semua terasa hening, ia memperhatikan dengan seksama sosok ibunya itu, bukan ibu yang cerewet, menyebalkan dan menyusahkan yang hadir disana, tapi sosok penuh kasih, pembela nya, penjaganya dan pendukung utamnya, itulah ibu. Ia pun menitikkan air mata kembali seperti yang sudah dialaminya beberapa saat lalu, namun kini ia tidak sanggup untuk menahan diri dari meledakkan tangisnya, iapun berlutut dan memeluk kaki ibunya.

Sang ibu terbangun dan membelai lembut kepala anaknya.

“Maafkan aku ibu. Maafkan anakmu yang sombong ini. Bukan, bukan ibu yang membutuhkan cintaku, bukan pula aku yang membutuhkan cinta ibu tapi justru aku yang membutuhkan untuk mencintai mu, aku butuh melampiaskan perasaan cintaku, rasa berhutangku, rasa balas jasku, rasa terimakasihku, perasaan… sebagai anak. Aku membutuhkanmu ibu… jangan pergi, aku butuh mencintaimu”

 

Sudahkah terpenuhi kebutuhan untuk “mencintai” kita?