Jangan Mara Mara

by : Abu Ihsan
Jangan marah, jangan marah, jangan marah, begitu kata sang manusia mulia, menunjukkan betapa buruknya dampak yang diakibatkan kemarahan it. Cerita tentang paku-paku yang dicabut kembali oleh seorang anak pemarah, akhirnya melahirkan penyesalan karena meskipun kemarahannya sudah dicabut namun bekas-bekas paku kemarahannya tidak akan pernah hilang.

Abu bakar dan kekasihnya Rasulullah saw sedang berbincang-bicang, tiba-tiba seorang arab badui mencela-cela Abu Bakar, namun ia tidak marah, hanya diam saja dan memberikan senyum, Rasulullah pun tersenyum melihatnya. Sang arab badui tidak tinggal diam, ia menambahkan makiannya lebih kasar lagi, Abu Bakar hampir tidak tahan mendengarnya, namun ia tetap diam dan terus memberikan senyum, Rasulullahpun tesenyum melihatnya. Tidak putus asa,sang arab badui semakin menjadi-jadi dalam ejekan-ejekannya, hingga akhirnya Abu Bakar tidak tahan dan ia menjadi marah. Melihat hal itu Rasulullah langsung pergi bahkan tanpa mengcapkan salam sekalipun. AbuBakar sadar kesalahannya, segera mengejar Rasulullah dan minta maaf.

Saat kau menahan amarahmu tadi, aku melihat banyak malaikat mengelilingimu, maka akupun tersenyum, saat yang kedua kali kau tetap bisa menahan amarahmu, para malaikat semakin banyak mengelilingimu, dan akupun semakin tersenyum, hingga yang ketiga kali kau tidak mampu menahan amarahmu dan marah, seluruh malaikat tadi pergi dan iblis yang ada disampingmu, lalu akupun pergi karena tidak ingin dekat dengannya, aku juga tidak mau mengucapkan salam kepadanya.

kenapa harus marah? Marah melelahkan, marah melemahkan otak, marah menurunkan kewibawaan, menghilangkan kebijaksanaan dan banyak keburukan lainnya, bagi diri kita sendiri.
satu-satunya kesempatan kita untuk marah adalah hanya ketika agama ini dinodai, Allah dan Rasulnya dijelek-jelekkan, karena itu tanda keimanan, tapi hanya itu, selebihnya tidak ada alasan bagi kita untuk marah.

Masih mau marah??