Ilmu Untuk Cinta

Cinta lagi by kang Darin, also from aldomination

Tidaklah kita mencintai kecuali kita mengetahui dan mengenal sesuatu yang kita cintai tersebut, kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” jika dilanjutkan lagi, tak sayang maka tak cinta, memang sunnatullah manusia akan lebih mencintai sesuatu yang dikenalnya, kita akan lebih punya kecenderungan kepada keluarga atau kerabat dekat kita sendiri yang telah kita kenal dan punya ikatan perasaan padanya dibandingkan orang-orang yang belum kita kenal sama sekali.

Maka kenal menjadi salah satu syarat cinta, walaupun tidak mutlak, (karena banyak juga kejadian yang mengatakan adanya cinta pada pandangan pertama dan cinta-cinta lainnya yang terjadi diantara dua orang yang tidak saling kenal, namun hanya cinta sejatilah yang bisa bertahan jauh lebih lama diakibatkan jika kita saling mengenal saling tahu dan bisa memahami) kenalilah kekasih kita agar cinta itu semakin subur dan tertempa dalam dari lubuk hati

Lalu cinta kita yang paling utama, cinta kita pada Pemilik Cinta lebih memerlukan penumbuhan cinta dibandingkan cinta-cinta lainnya, ketika kita berhubungan dengan cinta-cinta yang lain kita begitu giat menumbuhkannya dan memeliharanya jika sudah berkembang, maka pada cinta utama kita, usaha itu harus lebih giat lagi. Selain karena Dialah yang paling pantas dicintai (baca artikel “Cinta untuk yang Terpantas) mencintai Allah diatas cinta-cinta lainnya merupakan kewajiban keimanan kita yang telah bersyahadat dan mengatakan dirinya seorang muslim

Dan ketika mencintai Allah (mahabbatullah) menjadi kewajiban kita diatas cinta-cinta yang lainnya, secara tidak langsung mengenalnya menjadi kewajiban kita juga, agar bisa menumbuhkan cinta itu dengan pemahaman dan dilandasi ilmu, dan menuntut ilmu (ilmu dien tentunya) menjadi suatu hal penting dan wajib bagi setiap hamba, agar bisa menumbuhkan ketauhidan secara benar.

Jadilah menuntut ilmu sesuatu yang begitu utama, dan wajib bagi kita semua, mengenal agama ini secara mendalam dengan pemahaman yang benar dan sesuai dengan yang dipahami Rasulullah dan para sahabatnya (ini orang-orang yang paling tahu dan berilmu tentang agama ini) bukan sekedar dengan pemahaman kita atau pemahaman tokoh atau ustadz-ustadz yang tidak menyandarkan pemahamannya pada Rasulullah dan sahabatnya.

Dan sejarah telah mencatat menuntut ilmu ini menjadi perhatian paling utama orang-orang yang mengikuti manhaj Rasulullah dan sahabatnya, kita bisa melihat banyak cerita-cerita tentang para ulama yang begitu kerasnya usahanya untuk menuntut ilmu, dengan usaha yang berat, dan sangat lama sekali, karena ilmu ini memang berat dan lama sekali untuk bisa menguasainya, kita akan biasa mendengar cerita orang-orang yang sampai mengadakan perjalanan 1 bulan lamanya hanya untuk mendengarkan 1 hadist saja, atau cerita bagaimana kebanyakan penuntut ilmu itu menderita kencing darah, karena terlalu seringnya berjalan kaki, atau juga orang-orang yang memenuhi hari-harinya dengan belajar terus, mencari faidah yang bisa didapat dari 1 hadist, saat makan bahkan saat tidur terus saja memikirkannya.

Maka menuntut ilmu menjadi satu-satunya jalan untuk mengetahui agama ini dan itu satu-satunya jalan untuk bisa mencintai Allah, hingga saatnya nanti cinta itu akan tumbuh sendiri di dada sang penuntut ilmu, lebih mengenal dan tentunya akan lebih mendekatkan, Allah akan senang mendekatinya, menjaganya dan memelihara hatinya tetap pada kecintaan padaNya.

Nah sekarang saatnya kita mulai, menuntut ilmu ini tidak mengenal waktu dan tempat, kapanpun dan dimanapun kita diwajibkan untuk terus belajar, dengan usaha keras dan meneladani para pendahulu kita.

 

wallahu’alam