Bukan Sebuah Risalah Kemunafikan (part..2)

So hati-hati dalam menilai kemunafikan seseorang, karena hati adalah persoalan gaib yang hanya Allah yang tahu, dan hanya Allahlah yang akan menilainya nanti, kita hanya bisa menilai dari yang kita lihat saja, bahkan sesuatu keburukan yang disembunyikan, tetap tidak dinilai sebagai keburukan hingga tampak secara nyata

 

Sebuah kisah tentang Amirul mukminin (kalau tidak salah) Umar ra, yang memasuki rumah seseorang dan dan mengendap-endap melihat orang tersebut sedang meminum khamr, maka umar melaporkannya ke hakim, dengan sebuah dakwaan meminum khamr, tapi orang tersebut malah balik mendakwa Umar dengan 3 dakwaan, yaitu, memasuki rumah orang tanpa izin, melakukan kegiatan pengintipan, dan menyebarluaskan aib seseorang, dan akhirnya hakim memenangkan orang itu, Umar pun mengakui kesalahannya, umar kalah padahal dia dalam pihak yang benar dan ia seorang pemimpin, namun begitulah hebatnya hukum Islam di jaman keemasan dulu.

 

Ini sebuah risalah kecil, kritik untuk orang-orang yang terlalu anti kepada orang-orang yang sok baik, sok kelihatan alim, padahal punya banyak aib. Ketahuilah semua orang punya aib, dan seorang muslim diwajibkan menjaga aib saudaranya kecuali memang ia sengaja menyebar luaskan aibnya sendiri. Seburuk apapun hati orang yang melakukan kebaikan jauh lebih baik didunia ini daripada orang yang berhati sesuci namun tidak melakukan kebaikan apapun tapi hanya terus melakukan kritik demi kritik. Urusan hati dan balasannya adalah haknya Allah, sekali lagi kita cukup menilai orang dari apa yang kita lihat, itu jauh lebih baik.

 

Kritik itu baik, namun adab kritik adalah dengan diberikan langsung keorangnya 4 mata tanpa diketahui orang lain, apalagi kalau orang itu berkedudukan. Tidak ada gunanya kita menyibukkan diri dengan sikap dan urusan orang lain, orang-orang yang akan berurusan dengan kita paling banyak hanya beberapa tahun saja, sebuah waktu yang sedikit dibandingkan waktu hidup kita, satu2nya yang berguna untuk kita adalah dengan terus menerus meningkatkan kualitas diri, karena itu yang akan terus mempunyai dampak ke diri kita selamanya.

 

Biarkanlah orang berkarya dengan sebaiknya, biarlah orang beramal dengan caranya, semakin banyak efek positif yang diberikannya maka akan semakin baiklah walaupun kalau itu dilakukannya dengan niat tertentu.

 

Jangan sampai kekecewaan membuat semua kebaikan-kebaikan yang banyak bisa dihilangkan begitu mudahnya ditukar sebuah keburukan yang sesungguhnya sangat wajar dan sangat sedikit sekali jika dibandingkan semua kebaikannya.

 

Dan penampilan juga sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh, walaupun kita bukan orang-orang yang menilai dari kulitnya saja, namun suatu kemestian kita akan bertemu dengan kulit terlebih dahulu sebelum hal-hal lainnya, maka bagaimana kita mengemas kulit kita hingga dalam sentuhan pertama sudah memberi banyak kebaikan, minimal sebuah syiar nilai-nilai Islam dan pembiasaan.

….. bersambung.