Berlemah lembutlah

Berlemah lembutlah, itu jauh lebih baik daripada bersikap kasar, bahkan dalam kondisi apapun. Batu kalau dihadapi dengan batu juga, yang ada malah bisa menimbulkan percikan api yang membakar, tapi air yang lembut justru mampu melubangi batu atau bahkan merapuhkan batu.

Lemah lembut tidak selalu berarti lembek, tapi bisa juga keras. Keras dan Kasar hanya beda satu huruf, tapi maknanya sangat jauh sekali. Rasulullah sangat lembut, terhadap siapapun, tapi beliau keras dalam menerapkan hukum-hukum Allah, keras dalam artian tanpa kompromi, tapi tetap dengan kelembutan bukan kekasaran,  karena kekasaran selalu jauh dari solusi, fir’aun yang bebal, melampaui batas luar biasa saja, tetap Nabi Musa disuruh untuk berbicara dengan kata-kata yang lembut.

Terlebih terhadap keluarga kita sendiri, terutama anak-anak kita, jangan sampai ada kekasaran baik dalam bentuk fisik maupun mental, marah dan teriakan-teriakan walaupun tidak terlalu banyak berakibat kerusakan fisik, tapi justru berbahaya karena mengenai mentalnya bahkan mungkin alam bawah sadar anak, hingga mempengaruhinya semumur hidup. Teriakan dan kemarahan ini lebih berbahaya karena sering dianggap lebih mudah dan lebih aman dripada kekasaran fisik, jadinya setiap hari sering kita dengar seorang bapak atau ibu yang selalu berteriak marah kepada anak-anaknya.

Ada cerita seseorang yang mengikuti terapi, karena ia punya masalah sering buang air kecil, setelah diselidiki ternyata ia punya pengalaman saat kecil dibentak ayahnya hingga terkencing-kencing, hingga sudah dewasa trauma itu tetap ikut, ketika ada sesuatu yang mengingatkannya kepada bapaknya, iapun jadi ingin buang air lagi. Dan banyak sekali cerita lainnya, yang menunjukkan trauma masa kecil bisa terus mempengaruhi kehidupan seseorang selama-lamanya. Tentunya kita tidak ingin menjadi penyebab trauma terhadap anak-anak kita kan. Jadi berlemah lembutlah, terutama kepada anak-anak kita sendiri.

Teriakan, terutama kepada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, konon katanya bisa membangkitkan syaraf bagian otak reptil atau otak refleks anak, sebagai naluri alamiah manusia mempertahankan diri ketika merasa terancam atau dalam kondisi yang menakutkan, semakin sering anak menerima teriakan, maka insting hewaninya yang makin banyak terbentuk, akibatnya anak akan mudah menyikapi sesuatu dengan refleks kekasaran, terutama untuk melindungi dirinya sendiri, sehingga jangan heran kalau kelak anak akan mudah menyelesaikan masalahnya dengan adu fisik, karena itu refleks naluri hewaninya. Sebaliknya dengan kelembutan kita bisa membentuk anak menjadi manusia utuh, yang mempergunakan pikiran dan hatinya dalam menyikapi sesuatu, tidak selalu dengan refleks dan insting. Apapun yang diperbuatnya akan dipikirkan terlebih dahulu. So, kalau ingin membesarkan anak manusia, bukannya reptil, maka berlemah lembutlah.