Agar Tak Membekas

by : Dinar Ashina

Sebuah pohon menggerutu kesal karena terdapat banyak sekali bekas-bekas paku di tubuhnya yang membuat penampilannya tidak sebagus dulu, walaupun paku-paku itu sudah dicabut, namun bekas tancapan paku itu tidak akan bisa hilang selamanya.

 

 

“Tidak ada kata maaf bagimu” kata-kata itu terus diucapkannya, biarpun anak kecil itu sudah menyesali dan berkali-kali meminta maaf, bukan sombong tidak ingin memaafkan, tapi memang bekas akibat perbuatannya yang tidak bisa hilang, saat ia bisa menerima maka bekas-bekas ditubuhnya itu mengingatkannya kembali akan dukanya dulu

Kisahnya dulu bermula, saat seorang anak yang emosional, tak dapat menahan amarahnya. Ayahnya yang bijak pun memberi solusi untuk melampiaskan kemarahannya dengan memaku sebuah pohon. Dan berhasil, cara itu sedikit demi sedikit bisa menghilangkan amarahnya, perlahanpun sang ayah bijak terus menasehati anak itu agar bisa lebih sabar, tidak mudah marah dan bisa memaafkan, ayah yang bijak itu akhirnya berhasil merubah sang anak, ia tak lagi emosional dan menyadari kesalahannya dulu, ia pun mulai jadi anak yang pemaaf, sebagai gani kemarahannya dulu setiap ia berhasil memaafkan saat ini, maka iapun mencabut satu paku yang dipakukannya ke pohon dulu, satu demu satu akhirnya semua paku itu bisa tercabut semua, ia senang sekali melihat akhirnya semua paku dipohon itu bisa tercabut

Namun kesenangannya tidak berlangsung lama, iapun menjadi sedih ketika mengetahui ternyata tempat yang dipakunya dulu meninggalkan bekas lobang yang besar setelah dicabut lagi, walaupun ia berhasil mengalahkan amarahnya, namun ia telah meninggalkan bekas yang takkan bisa dihilangkan, ia terus menyesali hal itu namun tidak ada yang bisa dilakukannya.

Ah… andaikan dulu aku tidak perlu memaku ke pohon tersebut, tentu tidak ada luka yang akan terjadi, andaikan bukan kemarahan yang perlu kulampiaskan namun rasa memaafkan yang seharusnya lebih kutunjukkan, tentu semua ini tidak akan terjadi, demikian sang anak terus menyesali perbuatannya.

Sang pohon menjadi bingung. Ditengah dendamnya yang tidak bisa dihilangkan ia juga menjadi iba melihat sang anak, iapun bingung dengan seperti apa ia harus bersikap.

Seekor burung yang bijak bertengger di salah satu dahan sang pohon, andaikan kau selembut kapas tentu semuanya tidak perlu merasakan luka, luka-lukamu tidak akan meninggalkan bekas dan anak kecil yang telah menyesal itupun tidak akan disedihkan dengan bekas luka keburukannya.

Andaikan kau tidak sekeras itu, menghadapi berbagai pukulan, berbagai kekerasan, biarpun menyakitkan tidak dengan kekerasan pula, namun dengan kelembutan, kau tidak perlu menggesekkan hati lembutmu dengan luka-luka bekas penderitaan, sesaat pukulan itu dicabut saat itu pula kau bisa melupakan semuanya.

Tidak ada untungnya tetap menyimpan semua rasa sakit itu, tidak ada untungnya untuk ikut menjadi keras, selain melukai dirimu sendiri, dan juga melelahkanmu sendiri, bekas yang tertinggal akibat kerasnya hati itupun akan selalu kau bawa-bawa, dan selalu melahirkan dendam dan kepedihan yang tak berujung.

Burung bijak itupun terbang sesaat setelah memberi kata-kata yang langsung menohok sang pohon, ia bertambah bingung kini, jadi semua salahku kah???